Blog Archives

Rindu Juga Bisa Memilih

Sebuah perjalanan drama telah dimulai ketika seorang pujangga dan pemuja wanitanya datang terbang dari pulau tempatnya terasingkan oleh wanita pujaanya dengan bekal merindu yang entah berapa periuk yang mampu menunggu dan menampung rasa rindunya. Dia terus berharap di ruang tunggu sebuah bandara dengan harapan dia telah ada di kota tempat wanita pujaanya berada…

Laju mobil di pagi hari ditengah gerimis hujan telah ia terjangkan dengan balutan asap rokok yang tak berhenti sambung-menyambung menahan detak jantungnya ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya..sesaat pula hampir tertinggal oleh pesawat karena ketidaktenanganya menghalau rindu..namun kursi kabin itu yang menenangkan dan melelapkanya karena semalam terjaga tak ingin terlewat waktu segera menuju…
Sampailah dikota tempat burung besi itu beristirahat dan dengan waktu yang masih tertempuh 3 jam semakin membuat perasaan rindunya membuncah entah kemana dengan tas ransel besar berisi semua kerinduanya yang ingin segera ia inginkan untuk tumpah dalam pelukan hangat wanita pujaanya…

Semua terpijakkan dalam tanah basah yang tercium aroma segarnya menyambut hujan rintik mengiringi langkah kaki dan ransel besarnya, tak sabar segera bertemu ia pun melajukan badanya dalam tumpangan tukang ojek yang menyelip dengan lihai membelah jalanan…
Read the rest of this entry

Advertisements

Dia Bercerita Tentang Rindu

Cuaca terik dan entah sebatas penggal apakah matahari yang sedang sombong menyinarkan dan menunjukkan panasnya dijalanan pekanbaru , berdebu dan banyak orang mengernyitkan dahinya yang mencoba melawan matahari yang sedang sombong. Masih dengan batang rokok yang baru tersulut dan kepulan asap pertama terhisap dalam menghela nafas menyusuri jalan yang terasa panas aspal dan paving blok itu ketika kaki telanjang diinjakkan. Tidak sedang berkutat dengan apa yang lepas setiap hari dengan tampilan outlook atau dering telpon yang selalu kurindukan ketika berada dalam sebuah kamar kos berantakan layaknya seorang anak kos.

Dia sedang duduk disebuah trotoar dibawah pohon rindang yang mulai meranggas melepaskan daun-daun menguningnya , terbuka kancing bajunya dan sesekali menyeka keringat di dahi dan lehernya dengan jaket lusuh jeansnya yang penuh guratan garis artistik kotoran, sesaat aku tertarik menghampirinya untuk sekedar berbagi rimbun berteduh dan berbagi air mineral, rokok mungkin , namun itulah pikirku yang saat melewati warung kecil berhenti membeli dua botol air mineral dingin sambil mata tak lepas melihat betapa menariknya dia dengan selonjoran kakinya.

Dan sebuah sapaan basa-basi khas pertemuan orang asing yang sedang kesepian berjalan , obrolan pun termulakan dengan entah darimana sampai dengan satu saat aku pun terdorong bertanya heran dengan selonjornya dan beban berat dimuka nya. Cerita pun mengalir dengan derasnya namun masih juga dengan sesuatu yang dipendamnya sampai dengan semua mulai beranjak ke sebuah perbincangan hangat ketika bungkus rokok kubuka dan kubakar tak lupa kutawarkan untuk menemani perbincangan di hari yang terik itu.
Read the rest of this entry