Dia Bercerita Tentang Rindu

Cuaca terik dan entah sebatas penggal apakah matahari yang sedang sombong menyinarkan dan menunjukkan panasnya dijalanan pekanbaru , berdebu dan banyak orang mengernyitkan dahinya yang mencoba melawan matahari yang sedang sombong. Masih dengan batang rokok yang baru tersulut dan kepulan asap pertama terhisap dalam menghela nafas menyusuri jalan yang terasa panas aspal dan paving blok itu ketika kaki telanjang diinjakkan. Tidak sedang berkutat dengan apa yang lepas setiap hari dengan tampilan outlook atau dering telpon yang selalu kurindukan ketika berada dalam sebuah kamar kos berantakan layaknya seorang anak kos.

Dia sedang duduk disebuah trotoar dibawah pohon rindang yang mulai meranggas melepaskan daun-daun menguningnya , terbuka kancing bajunya dan sesekali menyeka keringat di dahi dan lehernya dengan jaket lusuh jeansnya yang penuh guratan garis artistik kotoran, sesaat aku tertarik menghampirinya untuk sekedar berbagi rimbun berteduh dan berbagi air mineral, rokok mungkin , namun itulah pikirku yang saat melewati warung kecil berhenti membeli dua botol air mineral dingin sambil mata tak lepas melihat betapa menariknya dia dengan selonjoran kakinya.

Dan sebuah sapaan basa-basi khas pertemuan orang asing yang sedang kesepian berjalan , obrolan pun termulakan dengan entah darimana sampai dengan satu saat aku pun terdorong bertanya heran dengan selonjornya dan beban berat dimuka nya. Cerita pun mengalir dengan derasnya namun masih juga dengan sesuatu yang dipendamnya sampai dengan semua mulai beranjak ke sebuah perbincangan hangat ketika bungkus rokok kubuka dan kubakar tak lupa kutawarkan untuk menemani perbincangan di hari yang terik itu.
Read the rest of this entry

Memotret Masa Lalu dengan Kamera baru

Ditepi Asap Tugu Muda Semarang

Judul diatas terkesan sangat puitis dan enak buat didenger maupun dibaca  , kembali kalimat itu muncul di meja janji joni sebuah kedai rumah makan pinggir jalan khas minang di jalan sudirman pekanbaru. Masa dimana kembali obrolan ringan kemudian berubah menjadi berat ketika dimeja telah teronggok bungkus rokok dan kopi hitam masing-masing. Mereka pun sudah hafal dengan kelakuan dan muka kita berdua begitu muncul , karena kita sangat setia menemani mereka sampai mereka tutup (alias sih ngga tau diri ampe diusir baru pergi).

Tiga Puluh Delapan Ribu , itu yang harus kita bayar untuk makan dan kopi malam tadi namun nilai yang dibawa lebih dari itu tentunya dan yang menjadi rangkuman dari cerita hari jumat , dihari yang sama janji joni pertama menetas di meja itu. Kembali ke memotret masa lalu dengan kamera baru adalah sebuah refleksi dari cerita curhat (ehmm kurang pas lah kalo curhat) lebih tepatnya adalah kontemplasi dari perjalanan kita sampai dengan saat ini dan tentunya adalah koreksi diri akan kehidupan yang lebih baik dan lebih menjadi manusia yang bermanfaat.

Memulai untuk berbicara tentang bagaimana menikmati hidup yang didalam filosofinya adalah menikmati hidup itu ya hari ini , bukan kemaren ataupun esok hari. Pembahasan mulai berat untuk dimengerti dengan duduk selonjor , tegakkan duduk dan dengarkan hati-hati kata demi kata  dan akhirnya masuk akal juga jika memang kehidupan adalah hari ini. Bagaimana kita bisa menikmati kopi hitam yang dicampur susu coklat jika yang kita sebut adalah kopi hitam dicampur susu coklat yang lupa diseduh kemaren dan atau yang ingin kita nikmati besok , sedangkan di depan meja sekarang yang ada adalah Kopi Hitam tanpa Susu Coklat. Mana yang dinamakan menikmati hidup dan sesunguhnya kehidupan yang bisa kita rasakan ? KOPI HITAM !!

Korelasi lain tentang menikmati hidup adalah belajar untuk meletakkan mimpi pada kuadran nya , realita pada koordinatnya dan pelajaran masa lalu pada kotaknya. Tiga Komponen kehidupan itu akan mendidik kita menjadi seorang profesional yang mengerti penempatan ekspektasi dan tentunya menikmati setiap kesibukan hari ini  , untuk proses mencapai mimpi yang ada diujung jalan dengan penuntun masa lalu yang telah terjadi.

Karena ketika seorang manusia memiliki masa lalu , bisa kita sepakati bahwa Sang Creator memang mengijinkan kita untuk sampai di fase sekarang. Bukanya Semua yang Terjadi harus seizin Beliau yang menjadi pemilik dan approver mutlak akan masa aktif manusia di bumi?