Category Archives: Fiksi

Dia Bercerita Tentang Rindu

Cuaca terik dan entah sebatas penggal apakah matahari yang sedang sombong menyinarkan dan menunjukkan panasnya dijalanan pekanbaru , berdebu dan banyak orang mengernyitkan dahinya yang mencoba melawan matahari yang sedang sombong. Masih dengan batang rokok yang baru tersulut dan kepulan asap pertama terhisap dalam menghela nafas menyusuri jalan yang terasa panas aspal dan paving blok itu ketika kaki telanjang diinjakkan. Tidak sedang berkutat dengan apa yang lepas setiap hari dengan tampilan outlook atau dering telpon yang selalu kurindukan ketika berada dalam sebuah kamar kos berantakan layaknya seorang anak kos.

Dia sedang duduk disebuah trotoar dibawah pohon rindang yang mulai meranggas melepaskan daun-daun menguningnya , terbuka kancing bajunya dan sesekali menyeka keringat di dahi dan lehernya dengan jaket lusuh jeansnya yang penuh guratan garis artistik kotoran, sesaat aku tertarik menghampirinya untuk sekedar berbagi rimbun berteduh dan berbagi air mineral, rokok mungkin , namun itulah pikirku yang saat melewati warung kecil berhenti membeli dua botol air mineral dingin sambil mata tak lepas melihat betapa menariknya dia dengan selonjoran kakinya.

Dan sebuah sapaan basa-basi khas pertemuan orang asing yang sedang kesepian berjalan , obrolan pun termulakan dengan entah darimana sampai dengan satu saat aku pun terdorong bertanya heran dengan selonjornya dan beban berat dimuka nya. Cerita pun mengalir dengan derasnya namun masih juga dengan sesuatu yang dipendamnya sampai dengan semua mulai beranjak ke sebuah perbincangan hangat ketika bungkus rokok kubuka dan kubakar tak lupa kutawarkan untuk menemani perbincangan di hari yang terik itu.
Read the rest of this entry

Bersandar di Bale Pujangga………………

Bagi seorang pejalan kaki dengan jaket jeans yang lusuh karena noda dan debu serta keringat yang telah menempel dan bercampur dalam semua langkah IMG_20120805_125355dan lompatan hidupnya , mengantarkan seorang pujangga pada sebuah pohon tinggi besar dan rindang yang selama ini dia cari dari gersangnya jalanan kampung dan ibukota yang bercampur antara gurun dan lembah yang nyinyir baunya tersengat dalam hatinya yang sedang terpontang-panting oleh sebuah roler coaster kehidupan.

Jaket lusuh dan bau yang menyengat adalah sebuah simbol akan hati nurani , perasaan dan kejujuran yang tersisa untuk menjaga tubuhnya dari angin , hujan dan badai dalam kehidupanya mencari apakah arti sebuah kehidupan yang menyenangkan , menyenangkan hatinya dan duniawinya. Gemerlap kehidupan , hedonisme dan keberpihakan akan kerusakan moral bangsa telah sempat membuatnya menjadi orang yang permisif akan sebuah dosa dan kelaknatan nilai seorang manusia. Read the rest of this entry