Category Archives: catatan Perjalan

Rindu Juga Bisa Memilih

Sebuah perjalanan drama telah dimulai ketika seorang pujangga dan pemuja wanitanya datang terbang dari pulau tempatnya terasingkan oleh wanita pujaanya dengan bekal merindu yang entah berapa periuk yang mampu menunggu dan menampung rasa rindunya. Dia terus berharap di ruang tunggu sebuah bandara dengan harapan dia telah ada di kota tempat wanita pujaanya berada…

Laju mobil di pagi hari ditengah gerimis hujan telah ia terjangkan dengan balutan asap rokok yang tak berhenti sambung-menyambung menahan detak jantungnya ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya..sesaat pula hampir tertinggal oleh pesawat karena ketidaktenanganya menghalau rindu..namun kursi kabin itu yang menenangkan dan melelapkanya karena semalam terjaga tak ingin terlewat waktu segera menuju…
Sampailah dikota tempat burung besi itu beristirahat dan dengan waktu yang masih tertempuh 3 jam semakin membuat perasaan rindunya membuncah entah kemana dengan tas ransel besar berisi semua kerinduanya yang ingin segera ia inginkan untuk tumpah dalam pelukan hangat wanita pujaanya…

Semua terpijakkan dalam tanah basah yang tercium aroma segarnya menyambut hujan rintik mengiringi langkah kaki dan ransel besarnya, tak sabar segera bertemu ia pun melajukan badanya dalam tumpangan tukang ojek yang menyelip dengan lihai membelah jalanan…
Read the rest of this entry

Soeman H.S , Episentrum Komunitas?

Tahun 2009 ketika menginjakkan kaki di kota ini , tidak terlepas ingatan akan bangunan yang entah saya pun lupa ingat apakah sudah berdiri tegak atau sedang tahap pencantikan. Gedung itu unik , megah dan tentunya kenapa bentuknya BUKU? Nama gedung itu pun tidak menjadi perhatian untuk diingat oleh sepersekian jumlah sel otak saya.

Tapi siapa sangka tahun 2012 kemaren saya bisa masuk ke gedung nan megah itu , dan rupanya memang benar dugaan saya waktu itu kalo gedung itu ya gedung perpustakaan. Tapi sayapun pertama kali menginjakkan kaki digedung itu bukan untuk menjadi pengunjung perpustakaan tapi memainkan musik menjadi pengamen penghibur para wartawan yang sedang berkumpul di media center utama PON RIAU.

Tapi menjadi pengamen di acara itu menjadikan saya tahu betul seluk-beluk gedung 4 lantai itu dan terus terang saya takjub akan gedung dengan julukan Perpustakaan Wilayah Soeman H.S. Bagaimana tidak tertakjubkan , karena disitu juga saya melihat rupanya selama ini stigma saya tentang sebuah perpustakaan itu porak poranda seketika , dimana perpustakaan bisa menawarkan taman bermain edukasi dari kelompok umur paling kecil sampai kebutuhan edukasi tingkat lanjut bagi mahasiswa dan bahkan bapak ibu kita yang sekedar membaca koran atau resep masakan mungkin.

Arsitektur megah dan kaya ruangan dengan sinar matahari bebas menembus cahaya menerangi seluruh ruangan , dari mulai conference room dengan kapasitas besar , meeting kecil , lobi nyaman dan tentunya dulu sempat ada kedai kopi di teras perpustakaan. Bayangkan bagaimana kita dibuat dan memaksa diri untuk membiuskan dalam sebuah dinasti baru simbol edukasi pekanbaru. Dan , Gedung Soeman H.S Berhasil dengan Pencitraan Simbol Dan pendobrak Pustaka tidak sama dengan kutu buku dan terkesan formal. Read the rest of this entry