Rindu Juga Bisa Memilih

Sebuah perjalanan drama telah dimulai ketika seorang pujangga dan pemuja wanitanya datang terbang dari pulau tempatnya terasingkan oleh wanita pujaanya dengan bekal merindu yang entah berapa periuk yang mampu menunggu dan menampung rasa rindunya. Dia terus berharap di ruang tunggu sebuah bandara dengan harapan dia telah ada di kota tempat wanita pujaanya berada…

Laju mobil di pagi hari ditengah gerimis hujan telah ia terjangkan dengan balutan asap rokok yang tak berhenti sambung-menyambung menahan detak jantungnya ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya..sesaat pula hampir tertinggal oleh pesawat karena ketidaktenanganya menghalau rindu..namun kursi kabin itu yang menenangkan dan melelapkanya karena semalam terjaga tak ingin terlewat waktu segera menuju…
Sampailah dikota tempat burung besi itu beristirahat dan dengan waktu yang masih tertempuh 3 jam semakin membuat perasaan rindunya membuncah entah kemana dengan tas ransel besar berisi semua kerinduanya yang ingin segera ia inginkan untuk tumpah dalam pelukan hangat wanita pujaanya…

Semua terpijakkan dalam tanah basah yang tercium aroma segarnya menyambut hujan rintik mengiringi langkah kaki dan ransel besarnya, tak sabar segera bertemu ia pun melajukan badanya dalam tumpangan tukang ojek yang menyelip dengan lihai membelah jalanan…
Raut bahagia berubah menjadi galau ketika wanita itu tidak kunjung ditemui dan tidak pula mendapatkan kabar dimanakah dia berada, apakah masih dikota itu ataukah sudah berpindah kota? terus kulihat sibuk dirinya memainkan handphone dan gadgetnya yang lain tapi tanpa hasil..kutemani dengan asap rokok yang kudosorkan sampai akhirnya penantianya sudah lebih dari 5 jam ia menunggu didepan rumah kos..tak kunjung datang akhirnya kebodohan lah yang muncul diotaknya karena kepanikan rindunya…
Dia susuri jalan kota itu dan pandangi setiap jejak motor dan mobil dan setiap wanita ia pandangi berharap itu adalah wanita yang dia sedang cari dan rindukan tapi ternyata langkah kaki itu sudah menujukkan kilometer ke empatnya dan lunglai dengan beban berat ransel akhirnya tertidur entah ada dimana sang pencinta itu…
terlihat semakin lusuh mukanya menatap hari berikutnya karena ternyata rindunya adalah rindu untuknya bukan untuk wanitanya karena dipagi hari pun tidak ada kabar dan tak tertemui wanita itu…

Kubalik bertanya , wahai saudaraku untuk apa kau lakukan semua ini?bukankah kau adalah laki-laki yang normal dan logis serta tidak bodoh? bagaimana mungkin kau cari wanitamu tanpa kau tau dimana dia sekarang dia pun menjawab pelan dan berkaca-kaca…

“aku tahu mungkin jarak telah meluruhkan cinta dan rindunya tapi tidak dengan diriku , jika memang kebodohan adalah jalan mendapatkan hatinya dan aku bisa bertemu denganya aku rela menjadi manusia bodoh itu”…
“aku telah mendapatkan hatinya dulu dengan hati dan semua yang aku miliki , jadi tidak alasan untukku menyerah hanya karena aku tak bisa menemukanya kembali…hatiku berkata teruslah kau kejar , kau akan dapatkan itu semua karena hati akan berbicara dengan hati , dialah yang akan mengerti betapa besar kau mencintainya meski dia hanya memberikan ragu kepadamu”…

Cerita Sebuah Rindu ini tertulis di warung kopi didepan kampus 

Advertisements

About Peninta Dot Com

Belajar untuk menuliskan dengan benar-benar menuliskanya

Posted on October 27, 2013, in catatan Perjalan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: