Dia Bercerita Tentang Rindu

Cuaca terik dan entah sebatas penggal apakah matahari yang sedang sombong menyinarkan dan menunjukkan panasnya dijalanan pekanbaru , berdebu dan banyak orang mengernyitkan dahinya yang mencoba melawan matahari yang sedang sombong. Masih dengan batang rokok yang baru tersulut dan kepulan asap pertama terhisap dalam menghela nafas menyusuri jalan yang terasa panas aspal dan paving blok itu ketika kaki telanjang diinjakkan. Tidak sedang berkutat dengan apa yang lepas setiap hari dengan tampilan outlook atau dering telpon yang selalu kurindukan ketika berada dalam sebuah kamar kos berantakan layaknya seorang anak kos.

Dia sedang duduk disebuah trotoar dibawah pohon rindang yang mulai meranggas melepaskan daun-daun menguningnya , terbuka kancing bajunya dan sesekali menyeka keringat di dahi dan lehernya dengan jaket lusuh jeansnya yang penuh guratan garis artistik kotoran, sesaat aku tertarik menghampirinya untuk sekedar berbagi rimbun berteduh dan berbagi air mineral, rokok mungkin , namun itulah pikirku yang saat melewati warung kecil berhenti membeli dua botol air mineral dingin sambil mata tak lepas melihat betapa menariknya dia dengan selonjoran kakinya.

Dan sebuah sapaan basa-basi khas pertemuan orang asing yang sedang kesepian berjalan , obrolan pun termulakan dengan entah darimana sampai dengan satu saat aku pun terdorong bertanya heran dengan selonjornya dan beban berat dimuka nya. Cerita pun mengalir dengan derasnya namun masih juga dengan sesuatu yang dipendamnya sampai dengan semua mulai beranjak ke sebuah perbincangan hangat ketika bungkus rokok kubuka dan kubakar tak lupa kutawarkan untuk menemani perbincangan di hari yang terik itu.

Logat bercampur-campur dalam sebuah kata dan yang jelas membuat saya harus membiasakan berpikir cepat apakah artinya dengan menatapnya penuh pengertian akan apa yang diomongkanya, sampai pada saat yang entah darimana mulanya dia mulai menunduk dan lirih bergumam ” saya hanya sedang bingung kenapa Tuhan memberi satu kerinduan yang sangat membuat saya lebih memilih menjadi pribadi baru daripada menjadi pribadi sekarang namun harus terus mencari dan mencari Kerinduan yang menyakitkan hati saya mas”

Raut mukanya berubah menjadi pucat dan bibirnya bergetar mengucap kata terakhir sebelum akhirnya dia berpamitan melanjutkan perjalananya serta terima kasih untuk berbagi air dan rokoknya ” saya mau melanjutkan langkah kaki yang sedang meminta saya melaju mencari kerinduan yang terpendam makna dan arti dalam semua pencapaian ini ”

Aku pun menjabat tanganya , mengucap terima kasih tanpa pernah tahu siapakah namanya manusia yang sedang berjalan mencari arti kerinduan itu…
———————————
Cerita lalu dari kelontong kata , 29 maret 2012

Advertisements

About Peninta Dot Com

Belajar untuk menuliskan dengan benar-benar menuliskanya

Posted on October 13, 2013, in catatan Perjalan, Fiksi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: