Memotret Masa Lalu dengan Kamera baru

Ditepi Asap Tugu Muda Semarang

Judul diatas terkesan sangat puitis dan enak buat didenger maupun dibaca  , kembali kalimat itu muncul di meja janji joni sebuah kedai rumah makan pinggir jalan khas minang di jalan sudirman pekanbaru. Masa dimana kembali obrolan ringan kemudian berubah menjadi berat ketika dimeja telah teronggok bungkus rokok dan kopi hitam masing-masing. Mereka pun sudah hafal dengan kelakuan dan muka kita berdua begitu muncul , karena kita sangat setia menemani mereka sampai mereka tutup (alias sih ngga tau diri ampe diusir baru pergi).

Tiga Puluh Delapan Ribu , itu yang harus kita bayar untuk makan dan kopi malam tadi namun nilai yang dibawa lebih dari itu tentunya dan yang menjadi rangkuman dari cerita hari jumat , dihari yang sama janji joni pertama menetas di meja itu. Kembali ke memotret masa lalu dengan kamera baru adalah sebuah refleksi dari cerita curhat (ehmm kurang pas lah kalo curhat) lebih tepatnya adalah kontemplasi dari perjalanan kita sampai dengan saat ini dan tentunya adalah koreksi diri akan kehidupan yang lebih baik dan lebih menjadi manusia yang bermanfaat.

Memulai untuk berbicara tentang bagaimana menikmati hidup yang didalam filosofinya adalah menikmati hidup itu ya hari ini , bukan kemaren ataupun esok hari. Pembahasan mulai berat untuk dimengerti dengan duduk selonjor , tegakkan duduk dan dengarkan hati-hati kata demi kata  dan akhirnya masuk akal juga jika memang kehidupan adalah hari ini. Bagaimana kita bisa menikmati kopi hitam yang dicampur susu coklat jika yang kita sebut adalah kopi hitam dicampur susu coklat yang lupa diseduh kemaren dan atau yang ingin kita nikmati besok , sedangkan di depan meja sekarang yang ada adalah Kopi Hitam tanpa Susu Coklat. Mana yang dinamakan menikmati hidup dan sesunguhnya kehidupan yang bisa kita rasakan ? KOPI HITAM !!

Korelasi lain tentang menikmati hidup adalah belajar untuk meletakkan mimpi pada kuadran nya , realita pada koordinatnya dan pelajaran masa lalu pada kotaknya. Tiga Komponen kehidupan itu akan mendidik kita menjadi seorang profesional yang mengerti penempatan ekspektasi dan tentunya menikmati setiap kesibukan hari ini  , untuk proses mencapai mimpi yang ada diujung jalan dengan penuntun masa lalu yang telah terjadi.

Karena ketika seorang manusia memiliki masa lalu , bisa kita sepakati bahwa Sang Creator memang mengijinkan kita untuk sampai di fase sekarang. Bukanya Semua yang Terjadi harus seizin Beliau yang menjadi pemilik dan approver mutlak akan masa aktif manusia di bumi?

Advertisements

About Peninta Dot Com

Belajar untuk menuliskan dengan benar-benar menuliskanya

Posted on October 12, 2013, in catatan Perjalan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: