Menang jadi Arang , Kalah Jadi Abu

Sebuah idiomatis terlempar dari seorang disebelahku dengan asap yang sama mengepul menghilangkan penat yang bercarut marut dengan segala problematikanya. Tersadar untuk bertanya apakah memang kita sedang menghadapi keruwetan yang sama kawan? rupanya tidak ,dia hanya sedang mengamati aku menghisap tembakau itu tidak dengan hati yang tenang setiap hisapan asap yang keluar dari mulut dan hidungku. Secangkir kopi pun disodorkanya untuk sekedar berbagi sruputan menambah rasa pahit dimulut penetralisir nikotin yang masuk ke paru-paru.
kawan itu tidak sedang ingin menampung keluh kesah tapi hanya duduk dan berbagi saja namun dari terawang mata serta tarikan nafasnya sudah bisa kubaca bahwa yang dia rasakan pun sama , ada perasaan was-was dalam hidupnya kala itu. setidaknya dalam kopi dan asap yang terbagi kita berada dalam sebuah perasaan hati yang sedang terbolak-balik dengan masing-masing kita tentunya.
Kawan-kawan di pulau seberang pun sudah mulai untuk mengingatkanku akan sebuah cerita idealisme menjadi bangsa yang bertanggung jawab akan masadepan negeri ini  untuk sebuah idiomatika penjajahan / kolonialisme pemikiran era baru dengan label internasional standard dan integritas ala asing. Sejujurnya sebagai pribadi yang kerap masih menangis ketika lagu indonesia raya berkumandang di Gelora Bung Karno bergemuruh dari mulut para penggila bola , seakan tercabik hati ini melihat kenyataan bahwa bangsaku sendiri telah menjadi bagian serdadu pembunuh masa depan bangsanya. Premanisme berkedok integritas  dan loyalitas serta profesionalisme menghentakkan kakiku sejenak berhenti melihat kebawah sepatuku bahwa tanah yang sedang kuinjak adalah tidak lebih tanah air yang merah oleh darah bangsa sendiri dan putih oleh ras jargon para penjajah pemikiran abad ini.

Namun menjadi pribadi yang sadar adalah pribadi yang harus mulai kita tanamkan dengan apapun idealisme fakta yang kita miliki , seperti kasus yang sedang marak kita saksikan bersama bahwa fakta persidangan dan fakta mata telanjang bahkan kejujuran telanjang pun masih bisa membuat hakim memvonis bersalah atas fakta tersebut karena akan selalu ada fakta yang bisa membalikkan fakta yang sebenar-benarnya fakta.
Apa yang telah terjadi dengan republik ini wahai kawan-kawanku  , apakah republik ini sudah malu untuk menyuarakan pancasila dan norma yang merupakan ciri khas negeri bertabur jamrud ini dan harus patuh serta menghamba kepada hukum yang notabene jelas dibuat oleh para ras penjajah dan pemain catur dunia ini. Tidak salah memang ketika Bhinneka Tunggal Ika harus sering jatuh bangun menjadi sasaran lemparan tai atau kotoran jalang sebuah eksklusifitas syar’i ataupuk negeri khilafah atau liberalisme demokrasi , karena Bhinneka tunggal itu sendiri pun telah kehabisan tenaga melawan semua arus luar karena didalam negeri sendiri harus berjibaku melawan pemikiran kultural adat budaya lokal serta karakter sebuah suku di negeri kita Indonesia.
Bagaimana dengan sangat mudah ketika konflik horisontal yang tak kunjung mereda atau bahkan menjadi laten kemudian pada suatu survey atau pendapat para ahli dikembalikan kepada satu pernyataan pahit ” Kultur suku itu memang begitu , jadi bagaimanapun nilai sekuat apapun belum akan bisa mengalahkan kultur suku tersebut.” …

Sampai pada satu kesimpulan saya harus mengamini kawan disamping saya , terima kasih untuk mengingatkan bahwa “Menang jadi Arang , Kalah Jadi Abu” . Selamat malam para pemuda  , selamat malam para pejuang dan selamat malam para penentang…. Negeri ini punya pekerjaan rumah yang tidak mudah , kita masih ada waktu sepuluh tahun kedepan untuk menentukan jawaban ,apakah memang kita mengamini ataukah kita mlalah mengimani stigma dan idiomatika ini..

Advertisements

About Peninta Dot Com

Belajar untuk menuliskan dengan benar-benar menuliskanya

Posted on July 7, 2013, in catatan Perjalan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Bahwa kultur dan adat budaya merupakan elemen penyusun “Bhinneka Tunggal Ika” adalah sebuah fakta. Pun bila dalam aktualisasi kultur tersebut ada “olah otot” atau “kanuragan” atau “keras”-nya pun bisa dipahami sebagai satu bentuk ke-bhinneka-an. Kultur yang memunculkan stigma “suku A itu begini, suku B itu begitu, jadi kedua suku tersebut sering begini dan begitu” pun bisa dimengerti apabila anggapan ke-bhinneka-an tadi dikemukakan.

    Yang sudah dilupakan, semboyan negara tidak berhenti pada Bhinneka saja, namun disimpulkan dengan Tunggal Ika. Tunggal, adalah satu, Esa, dan kurang dari ganda. Bhinneka yang tidak Tunggal Ika adalah bhinneka yang tidak produktif dan konstruktif, bahkan mungkin destruktif. Bhinneka yang dalam penerapannya tidak bisa disatukan pada ujungnya, menimbulkan gesekan tak henti, mungkin harus dirapikan dan disearahkan, karena walaupun ada pembelaan dengan dasar HAM (yang seringnya subyektif tergantung siapa pembicara yang menginterpretasikan), namun kita sepakat bahwa dalam konteks bernegara, hak yang tertinggi adalah hak bagi bangsa Indonesia, bukan masing-masing individu atau suku di dalamnya.

    Hukum, sebagai salah satu usaha untuk me-nunggal-kan ujung dari masing-masing keragaman tadi, memang masih belum memuaskan semua pihak. Namun, sampai kapan kita harus “mengejar dan memukuli wasit” dalam setiap aspek kehidupan kita? Bukankah berhati-hati agar tidak diganjar kartu oleh wasit merupakan hal yang pertama kali harus dilakukan? Proses pengawasan dan pengkritisan terhadap Hukum, bagi saya, tidak harus sejalan dengan Dekonstruksi Hukum.

    Walau pada akhirnya, penerimaan tetap saja subyektif, apalagi penyikapannya.

    Semangat Capt! Kebenaran adalah tetap kebenaran, walaupun tertutup ludah para penjilat dan perusuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: