Mlungsungi ………….

Bagi seorang pejalan kaki dengan jaket jeans yang lusuh karena noda dan debu serta keringat yang telah menempel dan bercampur dalam semua langkah dan lompatan hidupnya , mengantarkan seorang pujangga pada sebuah pohon tinggi besar dan rindang yang selama ini dia cari dari gersangnya jalanan kampung dan ibukota yang bercampur antara gurun dan lembah yang nyinyir baunya tersengat dalam hatinya yang sedang terpontang-panting oleh sebuah roler coaster kehidupan.

Jaket lusuh dan bau yang menyengat adalah sebuah simbol akan hati nurani , perasaan dan kejujuran yang tersisa untuk menjaga tubuhnya dari angin , hujan dan badai dalam kehidupanya mencari apakah arti sebuah kehidupan yang menyenangkan , menyenangkan hatinya dan duniawinya. Gemerlap kehidupan , hedonisme dan keberpihakan akan kerusakan moral bangsa telah sempat membuatnya menjadi orang yang permisif akan sebuah dosa dan kelaknatan nilai seorang manusia.

Sampai akhirnya perjalanan pun harus dihentikan dan berpikir sejenak untuk menikmati sisa oksigen pohon dijantung kota metropolitan yang masih bersisa segar untuk sejenak meyakinkan dirinya melepas jaket lusuh dan mencoba mengambil air untuk membersihkan mukanya yang entah sudah topeng keberapa yang dipakainya sampai akhirnya air dalam kolam samping pohon itu menjadi cermin pengingatnya bahwa inilah dirinya yang sebenarnya dan inilah wajahmu , inilah jerawatmu , inilah gigi tonggos mu dan inilah wajah menakutkan yang selama ini kau pakai untuk sekedar bisa menjadi orang tampak sempurna didepan opera kehidupan yang bahkan kamu sendiri bukan bagian peran ataupun skenarionya.

Memandangi kolam yang berdasar lumut dibawah namun jernih memantulkan muka yang selama ini sibuk ditutupi dengan topeng , melihat sendiri bagaimana daki dan lumpur yang melekat dari tubuhnya dan melihat kembali semuanya dalam satu bentuk utuh manusia pejalan kaki, yang polos dan tidak punya apa-apa…sejenak pohon tempat bersandarnya memberikan ketenangan jika dirinya telah terlahir kembali menjadi seorang manusia baru yang tidak perlu takut untuk salam atau bahkan takut untuk menjadi bajingan sekalipun..karena hidup telah ada ditanganya dan bukan orang lain.

Dari jauh dia melihat sebuah gitar tergolek dengan senar lapuk berkarat tertutup tingginya semak disamping kolam itu dan diam-diam diambilnya lalu coba melihat adakah hasrat gitar ini berjodoh dengan hatiku untuk sekedar aku menyanyikan sebuah syair hati yang sudah lama tidak ditembangkannya. Diambil lah ujung kaosnya untuk membersihkan dan mulailah senar-senar itu digosoknya dan diatur nada-nada dasarnya dan berbinarlah nada yang pas dengan senyumnya ternyata gitar usang itu hanya berbalut lusuh saja seperti dirinya tapi tidak kehilangan nadanya.

Petikan gitar menuntun hati dan tanganya untuk beresonansi pada nada dasar minor yang seketika membawanya menyeruak tertarik dalam sebuah dimensi waktu dimana kehidupanya mulai berwarna dengan sebuah bunga-bunga senyum yang ternyata jauh didalam lubuk hatinya ruang itu tidak pernah hampa hanyalah terpinggirkan saja. Masa-masa dimana semua keterbatasan membawa dirinya hanya menjadi seorang pengagum akan keindahan dan kesempurnaan makhluk tuhan yang bernama WANITA. Kenapa wanita yang begitu mengusik penerawangan hatinya kedalam puluhan tahun kebelakang? entahlah kawan ..aku hanya membebaskan apa yang hatiku dan jiwaku selama ini aku belenggu oleh topeng-topengku *begitu dia berujar kepadaku*… dan kemudian petikan nada lagu merangkaikan sebuah senyum kecil yang terajut halus dalam rantai ingatan akan masa itu ….Cerita pun akhirnya terhenti ketika nadanya menjadi semakin minor dan sayat terdengar lalu akupun memberanikan bertanya ”

“Wahai Pujangga apa yang kau rasakan sampai nada-nada gitarmu begitu menyatu dengan hati dan alam yang sepertinya kenangan sedang membawamu kepada satu jeritan hati terdalam mu tapi bukan kesedihan yang aku rasakan , Bisakah kau bercerita wahai kisanak”..dan dia pun menjawab dengan membakar tembakau bekas yang dia satukan kembali….

“Kawan , aku sedang menarik diriku kesatu masa dimana aku tidak mencintai siapapun dan tidak menderita dengan cinta , tidak begitu terhamba dengan setia , tidak diagungkan oleh cinta , apalagi aku sampai terjerembabkan oleh rasa memiliki” ..semakin aneh saja bapak satu itu, sambil dia membenarkan duduk silanya dan menghisap dalam tembakau sisa itu tadi, dan berlanjut lah ceritanya…

“Kawan, aku sedang mengingat kawanku yang telah tiada dengan satu cerita lamanya akan sebuah kesucian dan kejujuran kekaguman , dia sosok yang sangat pemalu tapi pemberani , dia sosok lugu tapi tegas dan dia adalah sosok bodoh tapi pintar…apa yang kusampaikan dalam sifat depanya adalah semua keterbatasanya pada perasaan untuk mengungkapkan cinta. Di usianya dia bisa mencoba memisahkan cinta dan kekagumanya , wanita itu adalah sosok yang sangat dia kagumi tapi tidak mampu dia merubahnya menjadi cinta , wanita itu yang membuatnya jujur untuk mengaku lemah jantungnya ketika harus bersapa namun kuat ketika melihatnya , wanita itu adalah sosok yang kemudian memberikan bekas kepada hatinya bahwa mengaguminya adalah suatu kebenaran mutlak untuk dirinya melihat dengan hati bagaimana dia akan memperlakukan wanita yang terbuat dari tulang rusuk yang bengkok dan butuh kehalusan hati dan raga untuk menempatkanya”

..akupun bertanya kepada Pujangga itu “wahai kisanak , kenapa dia harus meninggal dengan tanpa sedikitpun si wanita itu tahu betapa ada orang yang begitu mengaguminya dan menanggalkan batas cinta apalagi keinginan untuk memilikinya? apa dia seorang manusia?”..dan Pujanggan itupun Menjawab…

“Memang dirinya telah meninggal…Meninggal dan mematikan sendiri perasaanya karena ternyata nasib pun tidak berpihak padanya , waktu dan alam pun tidak menyatukan mereka dan memberikan kesempatan ataupun energi kepada kawanku hanya untuk sekedar menyampaikan langsung kekagumanya akan sosok wanita itu, tapi sepertinya dengan nada yang aku mainkan aku dapat merasakan jika JIWANYA KINI TELAH MENEMUKAN JIWA WANITA ITU “…semakin aku kernyitkan dahi atas perkataan gumam pujangga ini dan sambil dia terdiam menutup matanya memainkan nada lagi meminta aku mendengarkan syairnya dan meresapinya….

Syair itu berbunyi “Kawan aku sudah menemukan kembali wanita itu , alam meminjamkan aku sedikit energinya untuk menyapanya kembali setelah petimati kekagumanku menjadi tanah yang bergulat..Aku sudah bahagia , aku sudah menyampaikanya , aku tahu perasaanya , kekagumanku adalah cerita akan sebuah masalalu untuk kematianku yang lalu …Namun alam pun membataskan kuasanya dengan semua ini tersampaikan karena aku harus kembali ke dunia yang memang sudah dibedakan adanya”…..

aku pun tertegun , bagaimana sebuah pendopo kecil menitikkan sebuah kejujuran cerita akan “Jujurnya sebuah kekaguman yang tidak perlu dipaksakan menjadi Cinta , karena Cintamu hanya akan menjadi Rasa memiliki dan menghabiskan”… Kisanak, terimakasih untuk secangkir kopi , asap tembakau dan ceritamu yang tidak hanya menyayat tanpa airmata tapi menghidupkan sebuah definisi baru akan kekagumanmu..

*dari bale-bale pantun , gitar dan manusia-manusia berpluralis akan hidup cinta dan tuhan*

Advertisements

About Peninta Dot Com

Belajar untuk menuliskan dengan benar-benar menuliskanya

Posted on September 10, 2011, in Fiksi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: